Archive: Info Kesehatan

Dinkes Gelar Diseminasi Layanan Lansia

Menyelesaikan masalah masyarakat lanjut usia ( Lansia ) mamang dibutuhkan parhatian khusus. Bahkan salah satu satuan kerja perangkat daerah ( SKPD ) harus melakukan koordinasi. Sehingga, tercipta penanganan secara tepat. Read more

Diare dan Penyakit Kulit Nihil

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong sampai saat ini terus melakukan pantauan pasca banjir. Tujuannya untuk mengetahui apakah ada masyarakat yang terserang penyakit yang disebabkan banjir atau tidak, seperti diare dan penyakit kulit. Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Diskes Kabupaten Tabalong Taufik ketika dikonfirmasi Read more

Hanya Empat Alat Fogging Layak Pakai

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong merasa kewalahan menangani pengasapan nyamuk. Terutama ketika alat fogging yang biasa mereka gunakan akhirnya rusak. “Kami bingung mau memperbaikinya kaya apa. Read more

DBD Meningkat, Alat Fogging Rusak

Alat fogging milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong terus berkurang jumlahnya karena rusak. Jumlah seluruhnya sebanyak 18 unit, kini hanya tersisa 6 unit yang bisa digunakan. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinkes Kabupaten Tabalong Abdul Khair, mengatakan, alat fogging itu seluruhnya tidak berada di dinkes tapi menyebar di puskesmas. Read more

Pemkab Terima Penghargaan Kesehatan

Karena berhasil mengembangkan dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, Pemerintah Kabupaten Tabalong berhasil mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan RI Nafsiah Mboi.  Pemberian penghargaan ini bertempat di Jakarta pada 12 Nopember 2012 lalu.

Penghargaan ini pun diterima Wakil Bupati Tabalong H Muchlis, selaku perwakilan pejabat Pemkab Tabalong. Di sana, dia menerima penghargaan bersama beberapa pejabat daerah lain.

Sepulangnya dari Jakarta, ketika ditemui di rumahnya Rabu (14/11) wakil bupati mengatakan, penghargaan itu diberikan kepada Pemkab karena telah berhasil memperjuangkan kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah pusat.  “Program kesehatan yang dinilai, karena Tabalong memiliki pejuang-pejuang kesehatan di desa-desa berupa posyandu,” jelasnya.

Dijelaskannya, keberadaan pejuang itu pun turut disertai dana insentif dari pemerintah yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kurang lebih Rp 3 miliar. Perjuangan para pejuang kader posyandu ini berhasil membuahkan  kurangnya tingkat kematian ibu dan anak.

“Yang pasti ibu selamat anak sehat,” ujar Muchlis. Dikatakan wakil bupati, penghargaan tingkat nasional ini hanya Kabupaten Tabalong satu-satunya di Kalimantan Selatan. Ketika ditanya apakah ada pesan khusus dari menteri kesehatan untuk Pemkab Tabalong, Muchlis menjawab ya. “Menteri akan mengunjungi Tabalong dalam waktu dekat. Dia mau melihat langsung pelaksanaan program kesehatan,” ujar wakil bupati lagi.(Sumber Radar Bjm)

Pancaroba, Waspada Penyakit Ayam

Beberapa hari ini cuaca di Kabupaten Tabalong tak menentu. Pagi panas, tiba-tiba siang hujan. Begitu sebaliknya. Hal itu merupakan iklim pancaroba. Menghadapi masalah itu, Kepala Bidang Perlindungan pada Dinas Tanaman Pangan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tabalong, Hariyadi mengatakan masyarakat harus waspada terkait kematian hewan ternak ayam.

“Sebaiknya ternak ayam tidak diperlihara secara bebas, karena pancaroba seperti ini penyakit ayam bisa terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya, kepada Radar Banjarmasin.

Adalah penyakit Newcastle Disease (ND) atau Tetelo perlu dikhawatirkan. Pasalnya, tahun 2010 lalu, penyakit tersebut masih menghantui peternak dengan kematian puluhan ribu ekor ayam.

“Kematian ayam terjadi tiba-tiba. Terutama ayam kampung yang dipelihara bebas. Ayam yang tidur di atas pohon malamnya, pagi hari sudah ditemukan berjatuhan,” sebutnya. Kasi Perlindungan Hewan dan Feteriner Dr Saswoko menambahkan, untuk penanganan masalah ini di Tabalong terbilang sulit, disebabkan masyarakat gemar memelihara semaunya, tanpa pengurungan di kandang.

“Sampai sekarang jumlahnya sendiri kami tidak punya. Bagaimana mau mendata, cara memeliharanya dibiarkan bebas,” ujarnya. Meski demikian, distanakan tetap melakukan pemantauan penyebaran penyakit hewan unggas tersebut. Caranya dengan mengambil sampel untuk dibawa ke laboratorium, sehingga penyakitnya diketahui.

“Dari pantauan kami, untung saja tidak ada yang positif flu burung. Hanya ND komplikasi,” imbuhnya. Hanya saja, sampai sekarang distanakan belum bisa berbuat lebih banyak, kecuali hanya memantau. Pasalnya, tidak ada program vaksinasi untuk pencegahan. Baik berupa penyemprotan, suntikan, tetes mata dan pemberian pada minuman ayam. Namun, jika ada keluhan warga, distanakan siap untuk membantu.

“Program vaksinasi tidak ada karena masyarakat memeliharanya secara bebas, jadi tak bisa disetujui dewan. Kalau masalah penanganan pemberian vaksin, kami anjurkan agar pemberian bisa dilakukan dengan pola 3 hari, 3 minggu, 3 bulan. Kemudian dilakukan secara rutin 3 bulan sekali,” jelasnya.(sumber Radar Banjarmasin)

Back to Top